Saya Berdoa untuk Kesempatan Kedua. Tuhan Menjawabnya Melalui Leukemia
![]() |
| Saya Berdoa untuk Kesempatan Kedua. Tuhan Menjawabnya Melalui Leukemia |
AGEN POKER :“Leukemia, nih!” ucap seorang dokter hematologi-onkologi saat masuk ke ruang rawat saya. Ringan, seakan ia hanya sedang mengatakan, “Masuk angin, nih!” pada seorang pasien yang mengeluh pusing.
Saya, masih teringat jelas saat itu. Saya terbaring sembari berupaya mencerna kata-kata yang diucapkan dokter tadi. Apalah yang bisa diandalkan dari pengetahuan remaja tanggung yang saat itu baru mengecap 1 semester di kelas 1 SMA? Leukemia? Satu-satunya informasi yang saya tahu hanyalah dari serial Korea yang pernah saya tonton sekilas saja. Jelas tidak valid dan reliabel.
Ambisi dan Realita
Tumbuh dan berkembang dengan label ‘anak pintar’ membuat saya menjadi seseorang yang ambisius dan perfeksionis, terutama soal akademis. Padahal orang tua saya bukan tipikal yang menuntut anak untuk selalu mendapat ranking 1 di sekolah. Tidak sekalipun Ayah dan Ibu memarahi saya saat tidak mendapat nilai yang bagus, tentu karena memang saya hampir tidak pernah mengecewakan mereka untuk urusan sekolah. Bersyukur adalah salah satu keniscayaan bahwa saya dianugerahi kemampuan untuk mencerna pelajaran sangat baik. Secara tidak sadar, saya menaruh beban pada diri sendiri bahwa saya harus membanggakan orang tua dengan nilai-nilai saya.
Saya bangga, terlalu bangga sampai akhirnya saya menjadi ‘angkuh’. Masuk SMA, saya berkenalan dengan dunia baru. Persaingan yang lebih kompetitif, teman-teman yang jauh lebih pintar, pelajaran yang semakin sulit membuat saya sedikit tertatih-tatih mengejar ketertinggalan. Ternyata tidak berhenti di situ, ketertinggalan akademis saya masih harus ditambah dengan kondisi fisik yang menurun. Saya sering tidak masuk sekolah karena sakit dengan gejala-gejala yang saat itu tidak diketahui penyebabnya. Satu semester pertama penuh dengan keabsenan saya. Nilai-nilai pelajaran jelas turun di rapor sekolah saya dan terang saja saya merasa gagal. Ayah dan Ibu tidak pernah menyatakan kekecewaannya, mereka justru yang paling khawatir saya tertekan karena ini. Mereka tahu bahwa bagi saya kegagalan dalam bidang akademis adalah salah satu momok paling menakutkan dalam hidup.
Selepas pembagian raport semester 1, diam-diam lalu saya berdoa pada Tuhan.
“Tuhan, seandainya saya diberikan kesempatan untuk mengulang semuanya, saya mau memperbaiki semua ini.”
Tanpa tahu, skenario Tuhan dalam mengabulkan doa itu tak hingga.
Menjalani dan Bertahan Hidup
Kondisi fisik saya makin hari makin menurun dengan penyebab yang belum terdeteksi. Segala jenis pengobatan, baik medis maupun alternatif, sudah dicoba tapi saya masih mengeluhkan rasa sakit yang saat itu saya sendiri sulit mendeskripsikannya. Akhirnya dokter keluarga kami merujuk saya untuk diperiksa di rumah sakit yang lebih besar karena di Cirebon, domisili saya saat itu, tidak ada dokter ahli yang dapat memeriksa saya dengan pengetahuan yang lebih baik dan alat-alat yang lebih lengkap.
Yang berikutnya terjadi adalah saat semua gejala yang saya alami selama kurang-lebih 3 bulan tanpa diagnosis yang jelas bisa dideteksi sebagai Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) hanya dalam waktu kurang dari 2 hari. Saya harus melewati protokol kemoterapi intensif di RSCM selama 3 bulan. Setiap hari tanpa lepas selang infus dan selama beberapa minggu saya harus masuk ruang isolasi. Sendiri dalam ruangan karena imunitas saya yang rawan terinfeksi sehingga tidak satupun orang diperbolehkan untuk masuk kecuali dokter dan suster yang itu pun harus dalam kondisi steril. Bahkan Ibu saya harus tidur di luar ruangan dan kami hanya berkomunikasi melalui interkom.
Saya seperti menjalani kehidupan yang baru, meninggalkan kehidupan saya sebelumnya sejenak. Pertanyaan-pertanyaan teman akan kabar saya selalu berakhir dengan tidak berbalas. Meski saya tidak semenderita tokoh serial Korea atau sinetron lokal yang divonis leukemia itu, apalagi dengan perkembangan hasil pengobatan yang positif, jauh di dalam diri ini saya kecewa. Saya benci dengan semua orang. Saya marah dengan Tuhan.
Pengguguran Dosa dan Ujian Kenaikan Kelas
Dalam agama yang saya yakini, saat seseorang menderita penyakit di situlah Tuhan menggugurkan dosa-dosanya. Juga sebuah ujian karena Tuhan ingin kita menjadi manusia yang lebih baik dengan harapan derajat keimanan kita meningkat jika berhasil melaluinya. Sebagai seorang remaja 15 tahun, saya kesulitan benar memahami konsep tersebut. Belum ditambah lagi, pesan Ayah yang tidak pernah bosan ia sampaikan agar saya belajar bersyukur. Apapun itu kondisinya. Percaya pada Tuhan bahwa semua rencanaNya adalah yang terbaik.
Bagian mana dari menderita penyakit, harus melalui pengobatan tanpa putus selama 3 tahun, merelakan semua helai rambut, mengalami perubahan fisik yang kentara yang bisa disyukuri? Belum lagi kenyataan bahwa saya harus tinggal kelas dan kembali mengulangnya di sekolah yang sama.
Tiap kali hal itu terlintas, tiap itu pun saya marah pada Tuhan.
Saya masih menyimpan kemarahan itu bahkan setelah saya menyelesaikan pengobatan intensif di RSCM dan melanjutkan kemoterapi dengan berobat jalan, bolak-balik Cirebon - Jakarta. Kemarahan saya kembali terpicu ketika saya mulai kembali bersekolah. Bertemu teman-teman yang dulu sekelas dan saat itu saya harus menjadi junior mereka. Bergaul dengan teman-teman baru tapi harus menyandang label ‘murid tidak naik kelas’. Lagi dan lagi, saya mempertanyakan konsep ‘kenaikan kelas’ dari Tuhan.
Tuhan Beri Apa yang Saya Minta. Tuhan Jawab Apa yang Saya Tanya
Tuhan menjawab kemarahan saya begitu saja. Suatu malam saya diingatkan akan doa saya dulu tentang kesempatan kedua. Mungkin saat itulah doa paling tulus dan komunikasi paling jujur antara saya dan Tuhan. Bahwa Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk kesempatan kedua, mengulang ‘kehidupan’ untuk memperbaikinya.
Saya diberi kesempatan kedua mengulang masa kelas 1 SMA saya dari nol lagi. Melahap pelajaran-pelajaran yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan lebih percaya diri. Walaupun tidak menjadi juara kelas, nilai-nilai saya jauh lebih baik.
Tuhan berhasil memberikan jawaban atas pertanyaan saya tentang konsep ‘kenaikan kelas’. Hati saya menjadi lebih peka. Satu per satu hal baik datang. Saya dinyatakan sembuh oleh dokter setelah berhasil menyelesaikan kemoterapi selama 3 tahun. Saya dan keluarga belajar untuk menghargai hidup dan nikmat dengan lebih baik. Tak hanya itu, dari masa-masa itu saya jadi tahu siapa saja orang-orang yang akan selalu ada untuk saya, suka maupun duka.
***
Perlu hampir 12 tahun untuk saya belajar memahami ini dan saat ini pun masih terus belajar. Tapi kini saya percaya tidak ada satu pun doa yang terlewat oleh Tuhan dan terlalu banyak cara Tuhan yang bisa kita pahami dalam menjawab doa yang kita sampaikan. Saking banyaknya yang kita minta padaNya, kadang membuat kita sendiri lupa.
Kita mungkin akan marah dahulu, sebelum akhirnya mengerti. Tersesat dahulu, baru kemudian menemukan. Dan itu pun tidak apa-apa.

Post a Comment