Header Ads

Image and video hosting by TinyPic

Saya Tidak Ingin (Mengejar) Bahagia.

Saya Tidak Ingin (Mengejar) Bahagia.
Saya Tidak Ingin (Mengejar) Bahagia.



AGEN POKER : Saya Tidak Ingin (Mengejar) Bahagia.


Andai saya memilih tidak bahagia, andai saya mengakui bahwa saya memang tidak bahagia, lalu kenapa? Apakah ketidakbahagiaan begitu menakutkan sehingga banyak orang memilih menghindarinya, dan memilih bersikap ignorant, tidak mau melihat dan mendengar, hanya agar 'bahagia'? Mengapa?
Bahagia is overrated.
Bahagia sama saja seperti emosi lainnya: sedih, marah, takut, jijik, dan masih banyak lagi. Untuk saya, bahagia rasanya tidak usah jadi tujuan, tidak usah dikejar, tidak usah diutamakan.

Malam ini, kesimpulan itu menguat sangat. Membaca artikel Time tentang korban perang yang sebenarnya dijadikan sebagai strategi perang di Afrika sangat menyayat hati. Hati rasanya diaduk-aduk sedemikian dalam hingga keinginan menggugat Tuhan timbul sangat kuat. Di sisi lain, muncul di pikiran, bagaimana bisa saya berbahagia sedangkan di belahan bumi lain, di waktu yang sama, ada bayi berusia 3 bulan diperkosa.

Berita tersebut sangat mematahkan semangat. Membuat suasana hati saya menjadi demikian buruk. Keadaan yang tidak balance, tidak enak. Lalu apakah saya lantas perlu memilih untuk mengabaikan berita demikian? Memilih untuk tidak tahu, tidak mendengar, dan tidak melihat hal-hal sedemikian, asal saya bahagia?

Karena terkadang ada yang memilih sikap demikian ketika perasaan bahagianya terluka.

Tapi, saya juga kerap bertanya: apakah memilih sikap demikian itu tepat? Bagaimana dengan rasa kemanusiaan kita? Bagaimana dengan hati kecil kita yang menjerit? Apakah harus selalu ditutupi karena membuat hidup kita jadi kurang nyaman?

Andai saya memilih tidak bahagia, andai saya mengakui bahwa saya memang tidak bahagia, lalu kenapa? Bagaimana bisa saya bahagia mengetahui ada bayi berusia 3 bulan dan banyak perempuan diperkosa secara brutal? Apakah ketidakbahagiaan begitu menakutkan sehingga banyak orang memilih menghindarinya, dan memilih bersikap ignorant, tidak mau melihat dan mendengar, hanya agar 'bahagia'? Mengapa?

Pertanyaan ini menghantui saya selama beberapa waktu terakhir, semakin menguat setelah saya selesai membaca artikel Time di atas.

SAYA TIDAK TAHU BAGAIMANA REAKSI ORANG-ORANG JIKA SAYA JUJUR MENGATAKAN BAHWA SAYA TIDAK BAHAGIA.
Bisa jadi mereka meninggalkan saya, memandang saya aneh, atau menempeli saya dengan berbagai label. Tapi entahlah, ya, biarkan saja.

Saya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang absurd dengan ide bahwa bahagia itu "harus" dikejar. Bagaimana bisa? Bahagia itu sifatnya naik-turun. Bagaimana caranya membuat perasaan dan hati kita bahagia setiap saat? Bagaimana caranya agar emosi bahagia selalu berada di atas grafik; agar jangan sampai grafiknya menurun apalagi jatuh? Bagi saya absurd, karena saya membayangkan, untuk mencapai hal demikian pasti sangat capek dan melelahkan.

Selain itu, jika untuk menjadi bahagia artinya kita memilih abai terhadap hal-hal di sekeliling kita (saya hapal sekali dengan "cemooh" orang yang mengatakan, 'Ngapain sih ngurusin negara, ngapain sih mikirin hal-hal berat, kurang piknik lu.') rasanya ada bagian dalam diri saya yang teriak, berontak, dan protes.

Saya jadi berpikir, apakah yang selama ini kita kejar adalah kesenangan (hedon) atau kebahagiaan?
Seorang teman pernah berkata, mengejar kebahagiaan itu seperti fatamorgana. Semakin dikejar, ia akan lari semakin jauh. Ketika kita merasa sudah sangat dekat dengan kebahagiaan, tiba-tiba saja kita menyadari bahwa kebahagiaan itu cuma ilusi semata. Dia bilang, jangan jadikan bahagia sebagai tujuan.

Jadi, definisi bahagia itu apa, dong? Bagaimana dengan perasaan 'content'?

Psikiater Viktor Frankl pernah ditahan di sebuah kamp konsentrasi oleh Nazi. Ia kehilangan semua yang dicintainya. Sebagai manusia, tentu sulit merasa bahagia jika kita dihadapkan pada situasi tersebut. Apalagi jika bahagia yang kita jadikan acuan adalah bahagia yang bersyarat. Familiar dengan bisikan-bisikan hati seperti yang berikut ini?

Jika saya menikah dengannya, saya pasti bahagia
Jika saya bisa melunasi cicilan rumah, saya pasti bahagia.
Kalau saja saya bisa bebas bepergian ke mana-mana dan melakukan apa yang saya suka, pasti saya bahagia
Kalau pasangan saya sensitif dan mau memahami saya, pasti saya lebih bahagia.
Ya, ketika kita berusaha begitu keras dalam mengejar kebahagiaan yang bersyarat, lalu berusaha untuk harus terus berbahagia dalam setiap situasi yang menekan, kok sepertinya kita malah hanya membuat suasana hati semakin buruk, ya?

Viktor Frankl, berangkat dari pengalaman pribadinya menemukan insight: bahwa bahagia tak lebih dari emosi-emosi lain. Bahkan dia menyatakan, "It is the very pursuit of happiness that thwarts happiness."

Pengejaran terhadap kebahagiaan itulah yang membuat kita tidak bahagia.
Frankl menekankan, bahwa yang membuat seorang individu mampu bertahan ketika menghadapi situasi yang menekan adalah kemampuan kita dalam mencari makna hidup, dalam menghargai penderitaan, dan dalam merangkul rasa tanggung-jawab terhadap sekitar kita.

Bagi saya sendiri, mengalami perasaan hollow rasanya lebih 'menakutkan' daripada mengalami perasaan sedih dan kecewa. Merasa kosong dan hampa seperti itu rasanya buruk sekali. Tidak ada tujuan lagi, rasanya saya berfungsi seperti robot. Depresi paling buruk yang pernah saya rasakan justru adalah perasaan hampa yang mendominasi diri, bukan perasaan sedih dan kecewa. Depresi yang sangat dekat dengan pikiran tentang kematian.

Karena itu, terkait bahagia, saya realistis saja.

Tak mungkin saya terus-menerus bahagia kecuali saya mengonsumsi obat-obatan tertentu. Saya tak bahagia. Sulit bahagia. Dan sedang tak bahagia. Saya juga tidak mengejar bahagia. Saya hanya ingin merasa 'content'. Merasa cukup, penuh, dan baik-baik saja.

Tolong ajari saya, bagaimana caranya.

Tidak ada komentar