Header Ads

Image and video hosting by TinyPic

Kala Guru Korban Gempa Atasi Trauma

Kala Guru Korban Gempa Atasi Trauma

Kala Guru Korban Gempa Atasi Trauma

(Antara/rahmad) AKTIVITAS NELAYAN: Kapal nelayan melintasi perairan Selat Malaka di Lhokseumawe, Aceh, Minggu (5/2). Ratusan kapal nelayan kembali melaut setelah sebelumnya terkena dampak pencemaran limbah minyak yang hampir sepekan mengganggu aktivitas nelayan yang berakibat sulitnya mendapatkan ikan.
AGEN POKER : LEWAT beragam per­main­an, para ibu dan sebagi­an kecil kaum bapak dibawa larut. Ragam sugesti mem­buat mereka lupa akan masalah.
“Apa pun yang kita laku­kan me­ngandung energi po­sitif,” kata dr Dewi Pus­pa­ningtyas Faeni, akhir Januari 2017. Ia seorang psikolog yang juga penulis.
Dewi datang ke lokasi bencana gempa di Kabupa­ten Pidie Jaya pada 30-31 Januari 2017 bersama orga­ni­sasi perempuan Aceh dan memberi­kan pelatihan hip­nosis penyembuhan trauma (trauma healing) bagi para guru yang sebagian besarnya kaum ibu.
“Lupakan masalah,” ujar Dewi. Jari-jarinya menepuk pelan ubun-ubun seorang ibu. Perkataan relaksasi yang ia kemudian katakan benar-be­nar membuat peserta lupa akan beban. Hampir semua­nya terlelap, larut ber­sa­ma musik yang terdengar samar. Ke­pala mereka kemudian merebah pada sandaran kursi.
Dewi kemudian menceri­ta­kan sebuah kisah. Semua peserta hipnotis terlibat dalam cerita itu. Mereka diajak ke sebuah tempat yang indah dan nya­­­­­­man. “Rasa­kan keindahannya. Kau akan semakin mengantuk, me­ngantuk sekali. Seluruh persendian tubuh se­makin lambat dan kau se­makin te­nang,” katanya memberi arahan.
“Sebentar lagi kau akan saya bawa untuk bertemu dengan orang yang begitu kau kasihi.” Dalam lelap yang semakin dekat, semua diajak untuk ikut dalam arahan Dewi.
Lantas semua terlelap. Sebagian dengan wajah tertunduk dan yang lain­nya lagi terkulai di atas sandaran kursi. Dan saat Dewi meng­akhiri su­gesti, mereka perlahan membuka mata dan sebagiannya menguap. Ter­sirat merah dari mata-mata putih mereka.
“Ibu-ibu berada pada gelombang alfa dan teta. Jika Anda tertidur sangat sulit membangunkannya,” jelas­nya. Saat seseorang terhip­notis berarti ia berada dalam setengah sadar dan su­gesti masuk dalam alam bawah sadar.
Hipnosis merupakan tera­pi kese­hatan mental yang amat penting dite­rapkan pada kehidupan. Keberha­silan hipnosis, lanjutnya, ha­rus didasari pa­da kerelaan pa­sien. Esensi dari terapi ini adalah membahagiakan sia­pa­ pun yang tengah de­presi.
Namun demikian, banyak kesa­lahan pemahaman da­lam masyarakat. Misal­nya, anggapan bahwa laki-laki tabu jika menangis. Padahal, dalam situasi struktur eko­sosial, orang yang sehat adalah yang mampu menya­lurkan semua ekspresi dan juga emo­sinya. “Penting membangun semua ran­g­sangan emosi dan itu sehat,” jelasnya.
Sebanyak 67 persen penyakit, bera­sal dari piki­ran, karena itu hipnosis men­jadi penting untuk menjaga pi­kiran tetap berlaku positif.
Dewi berpesan, kaum ibu yang se­bagian besar guru, bisa mem­prak­tikkan apa yang didapatkan dari pela­tihan itu kepada siswa dan semua orang di lingkungan terdekatnya. Apa yang diajar­kan diharapkan men­jadi lingkaran yang tak henti berputar. “Terus sampaikan kebaikan ini karena hpnosis mengajarkan untuk hidup sehat dan hidup positif,” kata Dewi.
Ida Yuliati, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh seba­gai penggagas pelatihan ini bagi guru di Pidie Jaya, me­nyebutkan, para korban gempa bumi Pidie Jaya khususnya para siswa mem­butuhkan pendampingan. Di antara ke­butuhan masyara­kat adalah penanganan trau­ma pas­cagempa.
“Lewat pelatihan ini, kita berharap guru menjadi orang terdepan yang memba­ngun karakter anak menjadi lebih baik,” ujar istri Pelaksana Tugas Gubernur Aceh itu.
Sumarni, Kepala Sekolah Dasar Teupin Pukat, salah satu sekolah percontohan sekolah inklusi di Kecamat­an Trienggadeng, Pidie Jaya, adalah salah satu guru yang paling senang dengan digelarnya pelatihan itu. Baginya, apa yang ia pelajari di Aula Kantor Camat Trienggadeng itu merupa­kan bekal yang akan bawa dan ajarkan di sekolahnya.
“Kita bisa praktikkan itu di sekolah untuk menghi­langkan trauma bagi anak,” ungkapnya.
Di sekolahnya, Sumarni mengajarkan 40 siswa ber­ke­­butuhan khusus dan in­klusif, ada yang tuna rungu, autis, down syndrome, cacat fisik hingga cacat ganda. Mereka adalah orang istime­wa yang tentu perlu pena­nganan istimewa.
Sejak gempa bumi yang melanda Aceh khususnya kawasan Pidie Jaya, para siswa Teupin Pukat trauma untuk belajar di ruang kelas. Satu hingga dua pekan per­tama usai gempa, mereka bahkan tidak mau masuk kelas. Jadinya proses belajar-mengajar berlangsung di bawah tenda darurat. “Seka­rang tendanya sudah rusak kena angin dan hujan,” katanya.
Sumarni mengakui, trau­ma akibat gempa bumi bagi anak tidak bisa cepat dipu­lihkan. Anak-anak, ujarnya, lebih merasa nyaman ketika bergabung bersama dengan teman seusianya di sekolah. Karena itu, pelatihan bagi guru sangat penting sebagai bekal membantu anak meng­hilangkan trauma.
“Bahkan bila perlu buat penyembuhan trauma di sekolah-sekolah langsung. Kami sangat butuh,” aku­nya.
Sementara Nazariah, pe­ngajar di PAUD Bungong Keu­­pula Dayah Lubok, Ulim Pidie Jaya, menye­butkan apa yang diajarkan De­wi sangat bermanfaat. Bagi guru yang mengajar anak di bawah usia taman kanak-kanak, per­soalan keilmuan yang didapatnya dari pelatihan penyem­buhan trauma berkaitan erat dengan praktik pengajaran psikologi anak. Apalagi, para siswanya sebagiannya merupakan korban gempa bumi yang tentu menyisakan trauma.
“Masalah gerak tubuh ada­lah sesuatu yang anak su­kai,” ujarnya. Semua itu, lan­jutnya, sangat penting ba­gi tumbuh-kembang anak.

Tidak ada komentar